HP saksi sebuah saksi, meski tak bisa memberi kesaksian. Detik demi detik ku lalui, rasa itu belum jua pergi, kadang bisa sedikit terobati, dan menenangkan. “Tapi cuma sementara.” kata dokter yang memeriksa, karena memang belum diketahui penyebab sakitnya.
Dari beberapa dokter yang saya kunjungi, hasilnya sama, mereka hanya memebri petunjuk, dan rujukan. Hasil pemeriksaan tidak serta merta bisa dilihat langsung. Saya harus melalui tahap demi tahap. Dengan kesabaran saya berjuang, Dengan ketabahan kuatkan iman, seraya berdo’a minta kesembuhan pada yang kuasa.
Pagi yang agak mendung, udara dingin terpaksa saya terjang untuk sampai ke rumah sakit. Dengan sedikit tergesa-gesa, maklum khawatir penyakitku kambuh, ruang laboratorium RSI Tegal langsung saya masuki. Tidak beberapa lama petugas meninterogasi saya perihal keluhan sakit yang dirasa, sambil meminta surat rujukan dari RS lain bila ada. Karena kebetulan saya bawa, kemudian saya tunjukan surat itu. Sang dokter langsung mafhum dengan sodoran kertas itu.
Surat pebngantar saya terima lagi, kali ini saya disuruh cek laboratorium dan juga cek penyakit dalam. Tanpa buang waktu semua tahapan ku lalui dengan cepat. kini saatnya menunggu untuk ronsen.
sayangnya ronsen tidak bisa dilakukan hari itu juga, “Karena harus melalui puasa dulu.”
Sehari berpuasa tak ada yang dirasa, lemah, lesu yang biasa dikeluhkan orang yang berpuasa, tidak bagi saya entah apa yang terjadi dengan tubuhku ini.
Besoknya, saya dan keluarga bergegas ke RS kemarin dengan harapan bisa antri paling depan sehingga semua bisa terurus cepat. Sampai di RSI Tegal, saya memang datang paling dulu, tapi mengingat penyakit yang saya derita itu lain dari yang lain maka rinsen saya di akhirkan. Penasaran ku menjadi-jadi, seolah penyakit yang saya derita ini luar biasa. Menginjak siang hari baru namaku di panggil, menandakan untuk memasuki ruangan laboratorium. Selesai ronsen, saya tidak bisa langsung menerima hasilnya, terpaksa mesti menunggu lam, ini berbeda dengan pasien sebelumnya. kalau pasien yang lain menunggu cuma 5-10 menit, saya sendiri menugggu hampir dua jam, kata dokter, karena saya 5 ronsen jadi filmnya juga banyak.
Sambil menunggu hasilnya, perut saya terasa lapar, sementara dari rumah hanya membawa beberapa bukngkus saja, saking laparnya, saya lahap sisa makan adiku seadanya.
Selang beberapa jam, terdengar nama saya dipanggil, dengan semangat segera menghampiri panggilan itu. Hasil ronsen itu bisa saya terima, sayangnya saya tidak bias menerjemahkan gember ronsen, sehingga saya tidak tahu mana yang sakit. Dokter pun hanya merujhuk dokter untuk konsultasi hasil ronsen.
Segera saya temui dokter yang dimaksud, apa yang dikatakan dokter?Hati saya dag, dig, dug, tidak karuan. Dan ternyata dokter itu menyatakan bahwa kondisi tubuh saya sehat dan normal.
Wah….senang luar biasa, tapi orang tua saya hanya diam tidak menampakkan kebahagiaan. Ayah, ibu merasa ada yang jenggal dengan penyakitku, setelah sepuluh hari sudah diranjang, dengan rasa sakit yang menghujani, tiap kali kumat, tiap kali tengah malam, jeritan dan tangisan seolah untuk penghilang sakit, padahal tidak.
Ayah, Ibu dibuat penasaran…..