Posted by: muna86 | April 24, 2009

Puisi

Jejak Bintang-Bintang

Bintang-bintang berhambur gemerlap
Menatap malam kian hangat
Meratapi hidup penuh hidmat
Menghabiskan masa untuk berharap

Bukan tuhan tak mau di harap
Bukan pula tak mau mengabulkan pengharapan
Hanya saja kita perlu mawas diri
Kepada siapa kita sandarkan segala bhakti dan puji

Andai tau dosa-dosa kita
Masih layak manusia mengharap surga
Sudikah tuhan memberikannya
Bukankah neraka tempatnya pendosa.

Aku Masih Ingat

Masih ingatkah janji-janji kita dulu
Kau ucapkan dengan bibir-bibir yang manis juga menggoda
Kau katakana dengan penuh yakin
Kau memang manis semanis kalimta yang keluar dari bibir tipismu

Aku masih ingat
Takn perlu kau ingatkan
Aku pelupa, tapi aku takkan lupa
Terutama dengan janji-janjimu

Aku sadar
Aku mengerti
Aku pahami

Maafkan aku harus meninggalkan janji-janji itu
Aku tak ingin menyakiti siapapun
Walau hanya dibibir

Maafkan akan ku tutup lembaran sejarah ini
Biarkan waktu kan menunggu lembaran baru
Tak perlu kau sesali memang hidup tinggal menjalani

Posted by: muna86 | December 9, 2008

Derita Tanpa Sebab (2)

HP saksi sebuah saksi, meski tak bisa memberi kesaksian. Detik demi detik ku lalui, rasa itu belum jua pergi, kadang bisa sedikit terobati, dan menenangkan. “Tapi cuma sementara.” kata dokter yang memeriksa, karena memang belum diketahui penyebab sakitnya.
Dari beberapa dokter yang saya kunjungi, hasilnya sama, mereka hanya memebri petunjuk, dan rujukan. Hasil pemeriksaan tidak serta merta bisa dilihat langsung. Saya harus melalui tahap demi tahap. Dengan kesabaran saya berjuang, Dengan ketabahan kuatkan iman, seraya berdo’a minta kesembuhan pada yang kuasa.
Pagi yang agak mendung, udara dingin terpaksa saya terjang untuk sampai ke rumah sakit. Dengan sedikit tergesa-gesa, maklum khawatir penyakitku kambuh, ruang laboratorium RSI Tegal langsung saya masuki. Tidak beberapa lama petugas meninterogasi saya perihal keluhan sakit yang dirasa, sambil meminta surat rujukan dari RS lain bila ada. Karena kebetulan saya bawa, kemudian saya tunjukan surat itu. Sang dokter langsung mafhum dengan sodoran kertas itu.
Surat pebngantar saya terima lagi, kali ini saya disuruh cek laboratorium dan juga cek penyakit dalam. Tanpa buang waktu semua tahapan ku lalui dengan cepat. kini saatnya menunggu untuk ronsen.
sayangnya ronsen tidak bisa dilakukan hari itu juga, “Karena harus melalui puasa dulu.”
Sehari berpuasa tak ada yang dirasa, lemah, lesu yang biasa dikeluhkan orang yang berpuasa, tidak bagi saya entah apa yang terjadi dengan tubuhku ini.
Besoknya, saya dan keluarga bergegas ke RS kemarin dengan harapan bisa antri paling depan sehingga semua bisa terurus cepat. Sampai di RSI Tegal, saya memang datang paling dulu, tapi mengingat penyakit yang saya derita itu lain dari yang lain maka rinsen saya di akhirkan. Penasaran ku menjadi-jadi, seolah penyakit yang saya derita ini luar biasa. Menginjak siang hari baru namaku di panggil, menandakan untuk memasuki ruangan laboratorium. Selesai ronsen, saya tidak bisa langsung menerima hasilnya, terpaksa mesti menunggu lam, ini berbeda dengan pasien sebelumnya. kalau pasien yang lain menunggu cuma 5-10 menit, saya sendiri menugggu hampir dua jam, kata dokter, karena saya 5 ronsen jadi filmnya juga banyak.
Sambil menunggu hasilnya, perut saya terasa lapar, sementara dari rumah hanya membawa beberapa bukngkus saja, saking laparnya, saya lahap sisa makan adiku seadanya.
Selang beberapa jam, terdengar nama saya dipanggil, dengan semangat segera menghampiri panggilan itu. Hasil ronsen itu bisa saya terima, sayangnya saya tidak bias menerjemahkan gember ronsen, sehingga saya tidak tahu mana yang sakit. Dokter pun hanya merujhuk dokter untuk konsultasi hasil ronsen.
Segera saya temui dokter yang dimaksud, apa yang dikatakan dokter?Hati saya dag, dig, dug, tidak karuan. Dan ternyata dokter itu menyatakan bahwa kondisi tubuh saya sehat dan normal.
Wah….senang luar biasa, tapi orang tua saya hanya diam tidak menampakkan kebahagiaan. Ayah, ibu merasa ada yang jenggal dengan penyakitku, setelah sepuluh hari sudah diranjang, dengan rasa sakit yang menghujani, tiap kali kumat, tiap kali tengah malam, jeritan dan tangisan seolah untuk penghilang sakit, padahal tidak.
Ayah, Ibu dibuat penasaran…..

Posted by: muna86 | November 5, 2008

Derita Tanpa Sebab

Siang tanpa matahari, hanya rintik hujan yang sedikit memberi kelembutan nan asri. Tak beberapa lama, angin semilir datang seakan ada yang mengundang meski tak mengharap. Sayangnya, tidak banyak yang bisa manikmati, sejuknya kampung itu.
Begitu juga diriku, ketika itu dengan terpaksa pembaringan menjadi tempat istiqomahku. Tidak banyak yang dapat kulakukan kecuali merintih, meminta tolong dan minta ampun pada yang maha hidup. Bibir pun seolah terpatri dan tak bisa dibuka lagi, hanya rasa nyesal yang bisa menggerakkan lidah untuk berucap.
10 hari lamanya, tak ada kepastian dari rasa sakit yang asyik menempel dengan tubuhku. Entah dari mana datangnya, yang pasti derita itu tak mau pergi, meski siksaan selalu mendera kala nyeri itu murka. Tetangga, saudara juga sahabat hanya bisa berdo’a, “Moga cepat sembuh.” jika aku tidak sedang kesakitan, bathinku menjawab, “Emang kamu asisten tuhan.” tapi karena tubuhku tidak berdaya, ku hanya bisa berucap, “Amien…..”
Berulang kali HP ku berdering tanda sms masuk dan telpon masuk. Kesemuanya menanyakan nasibku.”Dah sehat belum, mas?” salah satu sms yang sempat ku buka, “Dah mendingan,” jawabku, via sms juga.

Posted by: muna86 | June 10, 2008

Menyambung Nafas Membuat Sejarah

Rasanya waktu berjalan begitu cepat, berlahan waktu lah yang menentukan nasibnya. Pengalaman seperti itu mungkin banyak orang yang mengalami tak terkecuali diriku. Pahit-getirnya menjelajah kehidupan hampir tiap hari kurasakan.

Dalam anganku kan jadi apa kelak nanti diriku ini. Sekilas tulisan ini nampak seperti curahan hati, tapi sebenarnya diriku hanya ingin dimengerti. Walau kadang harus meniti jejak-jejak yang tak pasti. Karena hidup ini adalah misteri.

Meskipun begitu perjuangan tetap dilanjutkan,  tidak ada kata tidak untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. dan yang lebih penting lagi bisa membawa perubahan bagi lingkungan disekitarnya, untuk agama, negara juga dunia.

Posted by: muna86 | June 3, 2008

RIZKA AULIA, SEBUAH REALITA UNTUK NURANI KITA

RIzka Aulia dan Ayahnya

Manusia dilahirkan bukan untuk dicela,
apalagi dihina, tapi untuk saling merasa.
Bahwa kita sama dihapan tuhan.

Sungguh malang nasib Rizka Aulia (7 bulan), anak mungil kelahiran Desa limbangan ini terus saja menangis. Ya, tumor dimatanya membuat gadis mungil ini harus menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun karena anak kecil ia hanya bias menangis, menangis dan menangis.
Keluarganya yang serba kekurangan, membuat kebingungan mau diobati dimana gadis ini. Ayahnya Nursalim Bin Brohim hanyalah tukang mie keliling, yang penghasilannya sehari tak seberapa. Sedangkan ibunya kini menjadi TKW di luar negeri. Dengan harapan nanti pulang bisa membawa uang banyak untuk berobat anaknya, belum lagi hutang yang melilit dirinya.
Kini sebulan lamanya, gadis aulia bersama bibinya dan ayahnya mesti bolak-balik Brebes-Semarang hanya untuk memeriksa keadaan tumornya. Rumah sakit karyadi tempat aulia dirawat. Bahkan rumah sakit tersebut sempat menolaknya dengan seribu alasan, padahal surat-surat sudah dipenuhi semua.
Tak ada lagi yang bisa diharapkan selain uluran tangan anda semua untuk mengerti dan memahami kemudian menyadari. Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dicela apalagi di hina. Hanya hati nurani yang kami harapkan serta do’a setulus hati. Dan uluran tangan untuk meringankan beban yang diderita gadis yang tidak berdosa.

Pasien : Rizka Aulia (7 Bulan).
Desa : Desa Limbangan RT 01RW 03 Kec. Losari Kab Brebes, 52255
Ayah : Nursalim Bin Brohim

Alamat yang bisa dihubungi:
Jl. Purwoyoso IV No.5 Kel. Purwoyoso
Ngaliyan, Semarang
Phone: 081326341107 (Munaseh)
085224569585(Imas)

Posted by: muna86 | May 19, 2008

Maafkan Keangkuhanku

Penyesalan memang datang ketika segalanya telah terjadi, itulah kebiasana manusia. Dengan kekurangannya dan kelemahannya bahkan kealpaannya, kerap kali menjadi noda yang membiasakan sehari-hari kita.

Wajar, mungkin itu yang biasa  orang ucapkan dan menjadi alasan. Sayangnya tak sedikit yang menyadarinya, kalalupun sadar biasanya pasca kejadian. Kata orang bilang itulah hikmah di balik kejadian. Dengan sedikit bermain logika terhadap makna yang tersirat dari butiran noda di setiap langkah manusia.

Tanpa curiga kadang tuhan kita salahkan, atau nasiblah yang menjadi kambing hitam. Padahal semua itu dibawah kesadaran manusia dan tanggungjawabnya.

Kesempurnaan memang milik yang kuasa, tapi manusia dituntut berusaha dan berusaha untuk terus memperbaiki diri. Dengan saling mengkritik dan mengingatkan.

Posted by: muna86 | January 31, 2008

Budaya Kaum Muda

Januari telah berakhir, apa yang hadir dalam benak kaum muda. pastinya kehadiran bulan februari, konon kata muda-mudi bulan istimewa. wajar saja, tiap 14 februari, dinyatakan sebagai hari kasih (valentine day).
Pada hari itu muda-mudi mengungkapkan rasa kasih sayang kepada pasangan mereka. ya, hari valentin. Budaya yang berasal dari barat ini sudah merasuki kaum muda indonesia. Dan tanpa disadari, ternyata kita sudah dieja budaya oleh bangsa barat.

Sayangnya, mereka melakukan itu hanya ikut-iktuan, tanpa  pengetahuan yang jelas. baginya itu tidak penting, yang pasti mereka hanya menikmati upacara tanpa tahu makna dan dampaknya terhadapa kehidupan anak muda di masa depan.

Tak perlu disesali, itulah potret orang indonesia. budaya pelupa, lupa sahabat, luba dosa apalagi agama. Budaya milik kita yang serat akan nilia-nilai ketimuran dtergerus oleh arus bangsa barart,yangjustru menjauhkan dari budaya bangsa timur.
untuk itu kotrol dari semua pihak,baik dari orang tua, sahabat dan seluruh elemen masyarakat untuk menyelamatkan budaya kita.
masih banyak budaya kita yang lebih baik dari sekedar hura-hura hari raya, masih banyak catatan bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik.
mari kampanyekan, cintai budaya sendiri.

Categories